Mengenal Lebih Dekat Generasi Ketiga Pembuat Macan Kurung Jepara



Berharap Ada Generasi Baru yang Berminat Buat Patung

Patung Macan Kurung asli buatan Jepara sampai saat ini masih banyak diminati kalangan masyarakat. Baik orang Jepara maupun luar Jepara. Bahkan macan kurung tersebut menjadi kebanggan Pemkab Jepara dengan dijadikan simbol batas wilayah antara Kabupaten Kudus dan Jepara. Atau hanya dijadikan souvenir setiap tamu kenegaraan atau pemerintah daerah yang berkunjung ke Jepara. Namun tahukah kita, bahwa pembuat Macan Kurung saat ini hanya tinggal dua orang?

--------------------------------------

Ketika Radar Kudus berkunjung ke Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, tampak sisi kanan dan kiri jalan masuk desa banyak pengrajin patung. Mulai dari patung yang berukuran kecil sampai besar.

Ketika kita masuk ke desa tersebut, hanya rasa kagum dan takjub yang akan kita rasakan. Pasalnya, mungkin batang kayu yang ada di sekitar kita yang tidak berguna, namun di desa tersebut bisa saja jadi nilai ekonomi tinggi.

Namun, hal yang mengagetkan adalah patung Macan Kurung yang berasal dari Desa Mulyoharjo sudah tidak tampak. Yang tampak hanya patung dewa-dewi umat Tionghoa, patung salib, dan patung yang banyak diminati masyarakat luas lainnya.

Kalaupun ada, hanya beberapa saja patung dengan bentuk Macan Kurung di sana. Itupun tidak pahatan satu pohon. Karena macan patung yang asli berasal dari batang satu pohon tanpa ada tambahan. Itulah khasnya!.

Jika perjalanan dari awal gerbang Desa Mulyoharjo kita teruskan kira-kira satu kilometer, maka kita akan menemukan sosok yang merupakan pribadi yang dekat dengan Macan Kurung. Sosoknya sudah renta, namun tetap bersemangat.

Dia adalah kakek Wardi. Dan Wardi ini adalah generasi ketiga pemahat patung Macan Kurung. Selain dirinya, pemahat patung Macan Kurung yang tersisa adalah menantunya.

''Di Jepara ini yang hanya bisa buat Macan Kurung asli (satu pohon penuh tanpa ada tempelan pohon lainnya, Red) adalah saya dan menantu saya. Jika ada Macan Kurung oleh orang lain, biasanya adalah hasil rangkaian beberapa kayu, bukan satu kayu,'' bebernya.

Namun saat ini, Wardi sudah sekitar satu tahun tidak membuat patung Macan Kurung. Hal tersebut diakibatkan usia dan tenaga yang dimiliki Wardi tidak kuat sebagaimana saat dirinya waktu muda.

''Saya sudah sakit-sakitan. Keinginan saya sih, tetap membuat patung Macan Kurung. Namun apa daya tidak kuat lagi,'' jelasnya.

Dirnya menceritakan, bahwa Macan Kurung diciptakan kakeknya yang bernama Singowiryo. Kemudian diwariskan pada bapaknya, Singosangiran. ''Saya mulai membuat Macan Kurung sekitar 1942. Saya berlatih dari bapak saya,'' ujarnya.

Macan Kurung, lanjut Wardi, mempunyai niali filosofi sendiri. Macan sebagai simbol orang yang mempunyai sifat jahat seperti keinginan mencuri. Oleh karenannya sifat tersebut kemudian diusahakan untuk dikurung.

Kesibukan Wardi saat ini diisi dengan menunggu rumah. Terakhir kali Wardi mendapat pesanan dari seorang pengusaha Jogjakarta. Pengusaha tersebut meminta dua patung Macan Kurung. Namun, Wardi hanya membuat satu patung.

''Saya sudah tidak kuat lagi. Terpaksa pengusaha tersebut hanya saya buatkan satu patung,'' paparnya sambil mengharapkan pematung Macan Kurung bisa bertambah terus sehingga mampu melestarikan tradisi khas Jepara itu. (cw2/mer)


Sumber : Jawapos,
 

Copyright © 2009 | ilovejepara | Designed by akunamasao
This blog proudly present to beloved city, JEPARA